Keamanan Siber di Sektor Energi Indonesia

Keamanan Siber di Sektor Energi

Keamanan Siber pada Sektor Energi: Pilar Utama dalam Ketahanan Infrastruktur Digital.

Perkembangan teknologi di sektor energi membawa manfaat besar, tetapi juga meningkatkan risiko serangan siber. Keamanan siber menjadi faktor krusial dalam memastikan infrastruktur energi tetap aman dari ancaman yang dapat mengganggu operasional serta stabilitas ekonomi.

Tantangan Keamanan Siber di Sektor Energi.

Seiring dengan meningkatnya digitalisasi, Industrial Control Systems (ICS), Operational Technology (OT), dan jaringan Teknologi Informasi semakin terintegrasi. Namun, hal ini juga membuka celah bagi peretas untuk mengeksploitasi kelemahan dalam sistem. Laporan Fortinet 2024 mengungkapkan bahwa 92% organisasi di Indonesia mengalami pelanggaran keamanan siber dalam setahun terakhir, dengan lebih dari 50% mengalami kerugian lebih dari 1 juta dolar AS akibat kehilangan pendapatan, denda, dan biaya lainnya.

Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia, menegaskan bahwa Cyber Security memiliki peran krusial dalam sektor energi.

“Dengan semakin kompleksnya sistem yang terhubung secara digital, perlindungan terhadap infrastruktur kritis menjadi sangat penting untuk mencegah gangguan yang dapat mengancam layanan publik dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Strategi Penguatan Keamanan Siber.

Untuk menghadapi ancaman yang semakin canggih, diperlukan pendekatan Cyber Security yang lebih proaktif dan berlapis. Beberapa strategi utama yang harus diterapkan oleh organisasi yang mengelola infrastruktur kritis meliputi:

  1. Penerapan Zero Trust: Prinsip ini memastikan bahwa setiap akses ke sistem harus diverifikasi terlebih dahulu, mengurangi risiko penyusupan oleh pihak yang tidak berwenang.
  2. Integrasi Keamanan Fisik dan Digital: Pengamanan tidak hanya terbatas pada sistem digital, tetapi juga mencakup perlindungan fisik terhadap perangkat dan jaringan yang digunakan.
  3. Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI): Sistem berbasis AI dapat mendeteksi dan merespons ancaman secara real-time, meningkatkan efisiensi dalam menangani serangan siber.
  4. Pelatihan dan Kesadaran Cyber Security: Sumber daya manusia merupakan titik lemah terbesar dalam Cyber Security. Oleh karena itu, edukasi mengenai Cyber Security harus menjadi prioritas utama di setiap organisasi.

Kolaborasi untuk Meningkatkan Cyber Security.

Melindungi infrastruktur energi bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan memerlukan kerja sama antara pemerintah, penyedia energi, dan pakar Cyber Security. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem keamanan yang lebih kuat dan tangguh terhadap berbagai ancaman.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dalam sektor energi. Namun, keberhasilan ini bergantung pada bagaimana kita mengamankan infrastruktur dari ancaman siber. Dengan pendekatan kolaboratif dan strategi keamanan berbasis AI, kita dapat memastikan ketahanan sektor energi yang berkelanjutan,” tambah Edwin Lim.

Dengan sistem keamanan siber yang kuat, Indonesia dapat melindungi infrastruktur energi yang esensial serta mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Keamanan siber bukan hanya pelindung, tetapi juga akselerator dalam mewujudkan ketahanan energi nasional yang lebih aman dan efisien.

Scroll to Top